Friday, April 16, 2010
sebuah kisah
Suatu hari saya dibelanja oleh teman saya makan mee di kedai mee
yang agak terkenal. Harganya tak mahal tetapi sedap. Kami duduk di
meja bulat yang dapat menampung sepuluh orang bila mengelilingi
meja. Di meja itu ada enam orang, saya, teman saya dan empat orang
kawan yang lain.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di sebelah kami. Mereka
telah memesan mee dan sedang menunggu pesanan.. Keluarga tersebut
terdiri daripada sepasang suami isteri yang masih muda dan seorang
anak yang berusia dalam enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari
sederhana. Pakaian mereka lusuh dan kusam. Anaknya kelihatan seperti
baru sembuh dari penyakit dan sedang menarik hingusnya keluar
masuk. Hingusnya seperti nombor sebelas dan kadang-kadang seperti angka
satu dengan warna kuning kehijau-hijauan. Si ibu dengan penuh kasih
sayang mengelap hingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung
anaknya. Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil
tertawa. Seperti makan mee itu merupakan perayaan menyambut
kesembuhannya. Ketika mee sudah sampai keluarga tersebut makan
dengan lahapnya.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya.
Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan
bencana dan penyiksaan. Bayangkan, bagaimana rasanya makan mee
dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum
lagi melihat dan mendengar hingus yang ditarik keluar masuk dan
sesekali dibersihkan oleh ibunya. Setiap kali menyuap mee ke mulut
sambil menghirup kuahnya, rasanya seperti hingus telah tercampur
dengan makanan dan membuat selera makan hilang. Tidak beberapa
lama kemudian, keempat kawan yang duduk semeja dengan kami
meninggalkan meja satu persatu- tanpa menghabiskan makanan.
Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar di wajah keluarga muda
itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat
lainnya. Tetapi itu tidak lama, terutama ketika mereka melihat teman
saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati
mee tanpa mengendahkan orang lain. Seolah-olah tidak ada bau di
sekitarnya dan tidak ada bunyi hingus. Saya juga terpaksa berpura-pura
tidak endah dan terus menghabiskan mee kerana mahu menghormati
teman saya yang belanja saya makan. Selesai makan, kami masih
duduk dua puluh minit sebelum meninggalkan kedai makan. Saya pelik
dengan teman saya yang luar biasa. Biasanya setelah makan, dia hanya
duduk paling lama sepuluh minit. Sekali lagi saya terpaksa menemani
teman saya dengan perasaan yang sangat jengkel.

Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya
merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan dia
sangat terganggu duduk berhampiran keluarga tersebut. Ia merasa ada
bau dan terganggu dengan bunyi hingus anaknya itu. Dia juga merasa
seperti apa yang saya rasakan.

Teman saya juga mengatakan, jika dia meninggalkan keluarga tersebut
ketika mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak
berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang
terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan
anaknya. Si suami telah mengeluarkan wang yang bagi mereka cukup
mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi
keluarganya. Wang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi
tidak bagi keluarga itu.

Saya sangat terkejut mendengar kata kata teman saya. Dan tidak
menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi
keluarga itu. Dengan caranya yang berbeza - bertahan makan mee
sampai habis dan menunggu dua puluh minit setelah makan, telah
memberi semangat baru bagi keluarga itu. Saya teringat bagaimana
rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami isteri itu
ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa
menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat
bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya
yang tidak kisah.


Pertama kali dalam hidup ini, saya menyedari bagaimana utk mengasihi
sesama manusia tanpa mengatakannya benar-benar tidak mustahil.
Teman saya dapat menunjukkan kasih sayang kepada sesama saudara
tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. Cukup hanya dengan
meneruskan makan mee sampai habis. Menunggu dua puluh minit
setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk
menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih
dan dilakukan oleh seorang teman. Ajaib bagaimana teman saya
menegur saya tanpa mengatakan sesuatu. Dia tidak menuduh tetapi
cukup membuat saya rasa sangat terpukul dan malu tetapi tidak
marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana selalunya
kita mengatakan mengasihi sesama manusia tetapi tidak pernah
melakukannya.


posted by tam @ 8:37 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
About Me


Name: tam
Home: Gurun, Kedah, Malaysia
About Me: This is me = Tam ( Nothing Special ) (V_V)
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links

ShoutMix chat widget
Template by
Blogger Templates
 
 
click here for free hit counter code
free url submission